dan aku tak lagi tahu akan sampai dimana cerita ini tertulis
apakah akan berakhir di halaman selanjutnya? atau satu bab lagi?
tapi setiap cerita harus punya akhir dan aku tidak pernah suka akhir yang tidak bahagia
jika aku boleh memilih akhir cerita kita,
aku akan memilih untuk menunggumu datang dimalam dingin dengan segelas kopi
karena aku tahu kau akan datang dengan sejuta cerita seru mu
dan kita akan menikmati malam sambil tertawa terbahak-bahak
menertawai hidup, menertawai kisah kita.
pada akhirnya kita menyadari bahwa ini bukanlah akhir cerita, tapi akhir dari cerita pertama yang membawa kita ke kisah yang baru.
sumber foto : Tomek Jankowski
Tak pernah habis kagumku pada goa
Walaupun selalu ada bau guano yang sama
Ornamen-ornamen yang serupa
Dingin yang membuat malas
Tapi selalu ada kejutan di setiap goa
Hari ini kami menelusuri Goa Ciwulung
Benar-benar bukan latihan yang menyenangkan
Multi Pitch yang menguras tenaga. Memuakkan.
Rappeling sekitar 30 meter, aku tiba di pitch pertama
Kutenggok mulut goa, tak ada lagi cahaya dari sana, malam tiba.
Tak lama satu per satu walet penghuni goa kembali ke sarangnya
Awalnya kurang dari 10 walet, semakin lama puluhan walet berterbangan di chamber kecil itu
Sejenak terkejut karena banyaknya walet yang masuk.
Aku dan teman-temanku berbaring di lantai goa berbatu dan berguano
Menikmati susana langka itu
Memandangi puluhan walet terbang indah mengitari chamber, ke atas, ke bawah.
Tak lama kusadari, mereka tidak menyambutku. Mereka ketakutan
Sorot lampu senterku membuat mereka panik dan berterbangan tak karuan.
Dengan berat hati kutinggalkan burung penghasil sarang mahal ini menuju pitch selanjutnya
dan aku kembali bergantung di tali, di selimuti kegelapan goa
hari ini, bukan hanya mental dan fisikku yang di uji.
lebih dari itu, imanku pun di uji.
Gunung Singgalang atau populernya Tebing 125 menjadi saksi,
Tebing megah ini mengajarkanku untuk bersyukur dan berzikir.
di tengah malam berpuluh meter di atas tanah, seorang diri diselimuti kabut.
suara pabrik terdengar menggemuruh di kejauhan
lampu rumah samar-samar, mobil meliuk-liuk di kejauhan
aku tak henti memohon perlindungannya. aku tak henti meminta fajar agar segera datang.
aku takut.
dan ketika fajar menyingsing aku sadar, aku hanyalah seorang makhluk kecil, penakut, penuh keangkuhan
yang tanpa-Nya aku bagai setitik debu terlupakan.
Ini prusiking pertamaku
Hari ini aku membuat jangkar pertamaku
Hari ini aku pertama kali salah memasang Maillon
Hari ini kuku ku patah karena terburu-buru membuat simpul
Hari ini pertama kali aku mual karena naik-turun tali
Dan di hari pertama ini tanganku sudah merah padam dan gemetaran
Sakit dan terasa panas
Tapi hari ini sekali lagi aku belajar untuk tidak menyerah pada keadaan
Karena tidak ada sesuatu yang indah yang datang dengan cuma-cuma
Hal yang indah datang karena diperjuangkan
Mama, biarkan putrimu pergi
Ia tidak frustasi
Tetapi…menuruti kata hati
Dari jiwa yang tidak pernah mati
Abadi selalu seperti magma di perut bumi
Mencari sesuatu yang tersembunyi
Dan mengenal diri sendiri
Mama, biarkan putrimu melintasi alam
Ada sesuatu kerinduan dari kalbu yang terpendam
Yang membawanya pergi
Melanglang gunung dan hutan
Menyatukan diri dengan keindahan
Sumber inspirasi dan imajinasi
Bagai sukma sejati
Mama, jangan halangi
Ia takkan dewasa nanti
Biarkan sepi sendiri
Menguak semua misteri
Kelak ia kan jadi putri
Yang berani dan rendah hati
Percayalah mama…
Dia kan tetap melati…
Ambrin Siregar
M 74016 APor



