Aku hanya bisa tertawa malam itu ketika sebuah pesan tiba dari sahabatku. Tak kusangka itu bukan lelucon, semakin lama obrolan kami semakin serius dan tak bisa dipandang sebelah mata. Aku menghela nafas, memandang televisi namun otak ku tak berhasil mencerna apa yang kupandang. Pesan itu sungguh mengganggu. Pesan itu mengantarkan kesempatan langka yang diinginkan banyak orang. Pesan itu seperti memenangkan judi miliaran! Pesan itu adalah sesuatu yang hanya sekali seumur hidup yang pasti rela ditukarkan orang tuaku dengan apapun asal aku tidak menerimanya. Andai pesan itu dapat menjawab pertanyaan ini ”Kenapa kamu datang sekarang pesan indah sialan?!

e:selain di bandung, mau tinggal di kota mana lagi?
p:Jogja mungkin
e:kenapa?
p:soalnya Jogja selalu menyenangkan, orang-orangnya ramah dan bersahabat atau di luar Pulau Jawa, di kota kecil supaya tenang

Coba beri tahu, hal apa yang lebih menyenangkan bagi seorang wanita ketika ia menggendong bayinya untuk pertama kalinya?

Coba jelaskan pada wanita itu, suara apa yang lebih indah dari pada tangisan bayinya yang lapar?

Coba gambarkan, apa yang dapat membuat seorang wanita sangat bahagia selain melihat perkembangan bayinya setiap hari?

Maka wanita itu akan penuh dengan rasa syukur karena diberikan kesempatan melihat bayinya tumbuh setiap hari, syukur karena dapat merawatnya, menangis ketika tahu bayinya  tidak sempurna, tapi tetap memperjuangkan dan mengorbankan segalanya untuk memberikan kesempatan bagi sang bayi untuk hidup dan berkembang.

Terima kasih untuk orang-orang yang terlibat dan membantu untuk mewujudkan semuanya menjadi kenyataan. Terima kasih untuk memberikan kesempatan sekali lagi agar wanita itu dapat belajar menjadi lebih baik, menjadi lebih tegar, belajar berusaha dan percaya bahwa tidak ada yang tidak bisa. Tapi dari semua itu, yang terpenting adalah kalian membiarkan sang wanita mewujudkan mimpi yang awalnya dia anggap hanya obsesi belaka. Sekali lagi terima kasih.

Selamat datang ke dunia ini

beingindonesian:

Karst Maros Pangkep, covering 43,700 hectare area, is the second largest karst landscape in the world. It is a tower-type karst and has at least 268 caves all around the place.
Maros, Pangkajene, Makassar, South Sulawesi, Indonesia.
(by T Ξ Ξ J Ξ)

beingindonesian:

Karst Maros Pangkep, covering 43,700 hectare area, is the second largest karst landscape in the world. It is a tower-type karst and has at least 268 caves all around the place.

Maros, Pangkajene, Makassar, South Sulawesi, Indonesia.

(by T Ξ Ξ J Ξ)

indonesianhistory:

Dayak Bahau people of Mahakam, Kalimantan, dressed in military attire. 1910. The Dayak Bahau is a tribe living in Kutai Barat regency, East Kalimantan.

indonesianhistory:

Dayak Bahau people of Mahakam, Kalimantan, dressed in military attire. 1910. The Dayak Bahau is a tribe living in Kutai Barat regency, East Kalimantan.

Seorang senior pernah bilang “kenapa takut sama sesuatu yang belum pasti kamu hadapi? kalaupun hal yang kamu takuti itu datang, kenapa ga dihadapi aja? kenapa terus-terusan lari menghindar?” 

Kenapa? Kenapa kamu takut pada sesuatu yang kamu kenal pun tidak?

Kenapa kamu takut untuk menjalani Wandering Season? Padahal mencobanya saja kamu belum pernah

Apa yang kamu takutkan? Memangnya kamu tau apa yang akan kamu hadapi? Kenapa? Apakah kamu takut gagal dan tidak sanggup?

Lalu aku, kami, dan ratusan orang lain yang telah melewatinya kamu anggap apa? 

Kenapa? Kenapa kami bisa dan kamu tidak?

Aku, kamu, dan ratusan orang lain yang telah melewatinya adalah sama.

Kami pernah berada diposisimu dengan kesibukan mahasiswa yang sama, masalah keluarga yang sama, nilai diambang kehancuran yang sama, masalah percintaan yang sama juga kemalasan yang sama. 

Mungkin yang membedakan adalah pilihan kami untuk menghadapi apapun masalah yang akan datang dan berjuang mewujudkan mimpi. Sedangkan kamu masih berdiri di jalur kebimbangan dan ketakutan.

Jika itulah yang kamu pikirkan saat ini, maka aku akan kembali bertanya padamu “kenapa? kenapa kamu takut pada sesuatu yang belum pasti kamu hadapi?

image

Masih panjang jalan yang harus dilalui, masih jauh tujuan kita. Tapi disetiap langkah ada atau tidak ada tapak kakimu menemani, aku yakin aku masih bisa melangkah sendiri. Bukan karena aku angkuh, tapi karena kamu mau aku begitu.

Kamu tidak memujaku berlebihan seperti mereka. Kamu tidak memanjakanku seperti ratu. Kamu memperlakukanku sewajarnya. Kamu membiarkanku jatuh dan belajar, membuatku kuat tapi selalu siap untuk menghapus air mataku ketika semuanya terlalu sulit. Membiarkanku menjadi keras kepala dan akhirnya kecewa karenanya, saat itulah kamu datang mengembalikan senyumanku. 

Kamu mengajarkanku untuk berusaha sebelum meminta pertolongan, bukan berarti tidak boleh minta tolong padamu. Kamu hanya mau aku mandiri dan percaya bahwa aku tidak selemah apa yang aku pikirkan. Walaupun kita berdua, kamu membuatku akrab dengan kesendirian. Perlahan-lahan, kamu mempersiapkan kita untuk sadar bahwa suatu hari nanti sepasang tapak itu akan hilang, mungkin punyamu atau punyaku. Dan ketika saat itu tiba, kita tidak akan terpuruk dalam ketergantungan tapi menjadi mandiri dan tegar untuk tetap hidup.

Matahari tak lagi bersinar bulan pun tak muncul. Sang  angin tak berhenti berhembus, tidak kencang namun bukan juga semilir. Hembusannya membawa aroma air asin khas pantai. Aku menikmatinya memainkan setiap rambutku, meninggalkan garam-garam yang terasa kasar di rambut. Membelai kulit menimbulkan rasa nyaman. 

Air laut yang sesekali menyentuh kakiku seirama dengan hempasan ombak menghantam kapal. Aku bersandar dan menikmati langit penuh bintang juga petikan gitar saudaraku di haluan kapal, sesekali suara sumbang itu mengajak untuk bersenandung. 

kapal ini membawa kami menuju pulau impian dimalam gelap. Bagai mimpi yang tak pasti, hanya bisa berserah pada kapten kapal yang mengandalkan senter kapal untuk memastikan tidak akan menabrak kapal lain atau terjebak di karang. Beberapa merintih ketakutan ketika ombak kencang menghantam, ada juga yang tertidur pulas dipermainkan ombak ditengah lautan luas.

Tapi aku menikmati malam itu, menyerap semua dan menyimpannya dalam kumpulan memori petualanganku. Agar ketika suatu hari nanti hal yang lebih buruk harus kuhadapi sendiri, aku bisa menenggelamkan diriku dalam memori indah malam itu. Berusaha menghibur diri dan melawan rasa takut

mauuu

mauuu

(Source: iguanid)

p:gimana nih, pusing deadlinenya udah deket tapi masih banyak yang harus dikerjain
e:nikmatin aja, ini kayak naik gunung. pasti cape banget tapi harus tetap jalan supaya bisa sampe puncak dan yang bikin lo tetap jalan itu semangat sama senyuman temen-temen lo. nanti kalo udah sampe puncak pasti seneng dan puas banget