Gua Lungun, Harta Karun Pegunungan Mengkuris

            Kami berlima duduk berjejer di bangku panjang depan basecamp, saya mengamati daun-daun pohon penaung bangku yang bergerak mengikuti belaian angin. Santai sekali hari ini, hanya Anas yang sibuk mondar-mandir berusaha mencari info tentang kejelasan penelusuran kami hari ini. Yosua berjalan-jalan di sekitar tempat pembibitan pohon yang sudah tidak terpakai mencari objek foto. Rano, Nadine dan Saya memilih menikmati waktu leyeh-leyeh kami.

            Baru empat hari kami di lapangan dan hari ini jadwal kami sangat molor. Tidak ada rencana leyeh-leyeh hingga pukul 10 pagi dalam oprasional yang kami kami susun di Bandung.  Harusnya kami sedang melakukan eksplorasi gua sekarang. Tapi hari ini, perwakilan adat yang harusnya mendampingi kami terlambat, padahal perjanjiannya mereka akan menemani kami dari pukul 08.00. Matahari tepat berada diatas kepala ketika deru suara motor terdengar dari kejauhan, 3 orang perwakilan adat Dayak Basap datang, cukup ber-leyeh-leyeh kami langsung mengambil tas dan peralatan yang dari pagi sudah kami siapkan.

            Penelusuran gua di Pegunungan Mengkuris ini adalah mimpi kami berlima. Selama tiga bulan kami berkutat dengan latian, pencarian dana dan informasi, masalah kami masing-masing, juga kuliah. Beruntung kami bisa bertahan dan melalui semuanya hingga mimpi ini terwujud.

            Sejak hari pertama kami tiba disini, menelusuri hutan sejauh 1,5 kilometer menjadi hal wajib yang kami lakukan sebelum mencapai Pegunungan Mengkuris dan harus selalu didampingi perwakilan adat. Pegunungan karst yang terbentuk sekitar 30.000.000 tahun yang lalu ini bagai kotak harta karun bagi para penelusur gua. Namun untuk menemukan hartanya para penelusur harus menghadapi berbagai variasi medan seperti melakukan scrambling, memanjat tebing, juga rappeling dan semuanya sepadan dengan harta karun yang akan ditemukan.

            Kami tiba di gua pertama hari itu, angin dingin bercampur aroma guano khas gua berhembus menyambut kami. Mas Madi salah satu perwakilan adat yang ikut mendampingi kami memberitahukan bahwa gua ini bernama Gua Lungun, yang berarti peti mati. Ia lalu menunjuk kayu-kayu tua Pohon Bengkeris yang berlumut yang merupakan bekas peti mati di depan mulut gua. Tidak lagi terlihat bentuk asli peti matinya, hanya cerita tua-tua adat yang meyakini tumpukan kayu berlumut itu bekas peti mati Orang Bahari, leluhur mereka. Kami berlima lalu melakukan tugas masing-masing, Yosua mengeluarkan kamera untuk melakukan dokumentasi di depan dan sekitar mulut gua. Anas dengan buku catatan dan pensilnya segera melakukan sketsa mulut gua. Saya mengambil buku catatan dan laser meter, melakukan deskripsi dan mengukur lebar juga tinggi mulut gua. Sedangkan Nadine dan Rano memeriksa keadaan sekitar.

            Jangan bayangkan Gua Lungun sebesar Gua Jomblang atau jenis gua vertikal menantang seperti Luweng Ombo. Gua Lungun adalah gua horizontal dengan mulut gua berukuran lebar sekitar 4 meter dan tinggi 3 meter. Masuk ke dalamnya kita akan langsung berada di sebuah chamber, tidak besar, diameternya hanya sekitar 15 meter, cahaya matahari pun masih bisa masuk ke daerah ini. Saya masih mengerjakan deskripsi mulut gua ketika Nadine berseru “Rock Art! Gua ini ada rock art-nya!”

image

Rock Art berbentuk manusia dan cap tangan 

            Saya mendekati bagian dinding gua. Tempat Nadine berada. Terpukau. Saya menyalakan headlamp dan menyinari dinding, nampak semakin jelas cap-cap tangan dengan berbagai ukuran di ketinggian yang berbeda. Nampak yang lain pun terkejut pada pemandangan langka ini, mengagumi misterinya dalam sunyi. Berkutat dengan pikiran masing-masing.

            Saya kembali ke mulut gua untuk meneruskan tugas mendeskripsikan mulut gua. Sambil bekerja saya bertanya pada ketua adat yang ikut mendampingi kami tentang gambar-gambar gua ini. Beliau menjelaskan bahwa gambar-gambar ini dibuat oleh Orang Bahari dengan cara menempelkan tangan mereka ke dinding dan mendorongnya hingga bentuk tangan mereka menempel. Ketika saya menanyakan bagaimana cara Orang Bahari menempelkan tangannya di bagian dinding yang cukup tinggi, sang ketua ada tersenyum dan menjawab “tentunya tidak pakai tangga, badan mereka cukup tinggi untuk mencapainya”

image

Perbadingan tinggi antara Taufik (pembimbing) anggota tim dengan tinggi lebih dari 175cm dan rock art         

Mendapatkan kesempatan mengunjungi Desa Batu Lepoq, Kecamatan Karangan, Sanggata, Kalimantan Timur merupakan pengalaman luar biasa. Disambut dengan tangan terbuka oleh kepala desa, masyarakat desa, pihak PT. Sumalindo serta seluruh Masyarakat Adat Dayak Basap adalah berkah bagi tim kecil ini. Terlebih lagi menemukan Gua Lungun, bagi saya, adalah pelengkap petualangan ini.

image

Pegunungan Mengkuris

Foto-foto oleh : Yosua Daniel Salim

Ini adalah pemandangan baru yang aku sukai saat terjaga di pagi hari, mengalahkan pemandangan gunung dan langit biru dari jendela disisi tempat tidur. Inilah benda yang suka ku pandangai ketika aku bosan membaca bahan skripsi, berharap garis centang itu bisa lebih cepat memenuhi kotaknya. Menghitung mundur setiap hari sambil terus berharap yang terbaik dan keselamatan untukmu juga yang lainnya. Tiga puluh enam hari lagi, semoga cepat berlalu

Ini adalah pemandangan baru yang aku sukai saat terjaga di pagi hari, mengalahkan pemandangan gunung dan langit biru dari jendela disisi tempat tidur. Inilah benda yang suka ku pandangai ketika aku bosan membaca bahan skripsi, berharap garis centang itu bisa lebih cepat memenuhi kotaknya. Menghitung mundur setiap hari sambil terus berharap yang terbaik dan keselamatan untukmu juga yang lainnya. Tiga puluh enam hari lagi, semoga cepat berlalu

apa sulitnya menunggu 52 hari? toh kita pernah sama-sama saling menunggu selama 20 tahun. rasanya tidak perlu resah, karena aku tahu kamu akan selalu menepati janjimu untuk selalu hati-hati dan pulang secepatnya

e:jadi mau hadiah apa buat ulang tahun?
p:hmmm, gatau...
e:nah! lo kan suka batu-batuan gitu gimana kalo gw kasih batu, batu... kali
p:yakali
e:oooh! batu yang lebih berguna aja. Es batu!
p:tseraaaah

Jatiluhur 2014

Semua ini sebenarnya hanya soal seberapa kuat kamu bersabar

Sabar menghadapi sesuatu yang baru, sabar menghadapi orang yang kamu benci, sabar menghadapi kemuakan yang secara konstan meningkat

Kata orang, sabar ada batasnya. Percaya, sabarmu dan sabarku berbeda batasnya. Aku bisa sabar menyelesaikan apa yang mereka sebut “pendewasaan diri tingkat lanjut” ini. 

Kamu?

Apa sudah cukup sabarmu kamu uji? Apa sudah puas dengan batas sabarmu yang baru sampai disini?

Sabar saja dan lanjutkan dan jangan pernah jadikan ‘berhenti’ sebagai pilihan

terima kasih untuk selalu menjadikanku istimewa

terima kasih untuk semua dalam hidupku selama 4 tahun ini

kamu adalah penyemangat hidup, guru dan panutan

kamu ada di setiap langkah kaki, detak jantung, aliran darah dan bisikan di telinga

kamu membuatku tetap hidup dengan kepala terangkat dan mengisi hari-hariku dengan petualangan terhebat serta memberiku segalanya 

satu yang aku minta sekarang, aku ingin berhenti menjadi istimewa

karena selalu menjadi istimewa bersamamu memaksaku mengikuti derap langkahmu, tarikan nafasmu, perlahan tanpa sadar aku serupa denganmu

kamu menggenggamku erat di bawah bayanganmu, meninggalkan mimpi-mimpiku yang lain. terdistraksi pada buaian sarta iming-iming untuk selalu menjadi istimewa

tapi aku sadar, suatu hari setiap anak burung pasti akan meninggalkan sarangnya 

mereka akan pergi melihat dunia, mengepakkan sayapnya terbang jauh dari sarang untuk membangun sarangnya sendiri. menjadikan dirinya istimewa atas usahanya sendiri 

seperti mereka, akupun sudah siap meninggalkanmu untuk menjadikanku istimewa dengan usahaku sendiri. memulai segalanya dengan kaki, tangan dan peluhku tanpa berpayung bayanganmu.

pernah berpikir untuk membenturkan kepala ke dinding dengan sengaja hanya untuk membuktikan bahwa isi kepalamu masih otak?

rasanya sesekali hal itu patut dicoba, hanya untuk membuktikan otakku ini belum jadi batu.

Aku hanya bisa tertawa malam itu ketika sebuah pesan tiba dari sahabatku. Tak kusangka itu bukan lelucon, semakin lama obrolan kami semakin serius dan tak bisa dipandang sebelah mata. Aku menghela nafas, memandang televisi namun otak ku tak berhasil mencerna apa yang kupandang. Pesan itu sungguh mengganggu. Pesan itu mengantarkan kesempatan langka yang diinginkan banyak orang. Pesan itu seperti memenangkan judi miliaran! Pesan itu adalah sesuatu yang hanya sekali seumur hidup yang pasti rela ditukarkan orang tuaku dengan apapun asal aku tidak menerimanya. Andai pesan itu dapat menjawab pertanyaan ini ”Kenapa kamu datang sekarang pesan indah sialan?!